Pada saat membaca buku atau mendengarkan ceramah, terkadang kita menjumpai nukilan kata-kata yang dinisbatkan kepada Rasulullah. Kalau kita percaya pada buku atau penceramah tersebut, maka hal itu tidaklah mengapa. Namun, terkadang muncul dalam benak kita suatu sikap yang mempertanyakan, benar gak sich kalo kutipan itu adalah hadits?.
Memang sah-sah saja mempertanyakan hal seperti itu. Bukannya tidak mempercayai, akan tetapi melatih cara berpikir kritis, terutama untuk hadits-hadits yang kurang terkemuka bunyinya. Selain itu juga untuk memperkaya pengetahuan akan hadits itu sendiri.
Oleh karena itu, para sarjana islam (ulama) mengembangkan berbagai cara untuk melacak keberadaan suatu hadits dalam kitab-kitab asal. Yang dimaksud kitab asal adalah kitab hadits yang ditulis langsung oleh mukhorrijnya sendiri. Contohnya, Shahih Bukhori, karya Imam Bukhori, Shahih Muslim karya Imam Muslim, Muwathho’ Malik karya Imam Malik dsb. Dalam kitab tersebut disebutkan secara lengkap urut-urutan sanadnya.
Bagaimana cara melacaknya? Berikut akan saya sampaikan secara lebih lengkap. Sebagai contoh, kita akan memakai satu hadits yang cukup dikenal oleh cowok-cowok islam, yakni hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairoh r.a. yang berbunyi: “idza qulta lishohibika yawmal jum’ati “anshit” wal imamu yakhthubu faqod laghout…”. Pasti pada tahu kan, kalau gak pada tahu berarti jarang sholat jum’at. Hehehe :D
1. Ada kitab-kitab hadits yang metode penulisannya berdasarkan kepada shahabat yang meriwayatkan hadits itu. Contohnya adalah kitab-kitab musnad, mu’jam dan athrof. Kitab tersebut disusun berrdasarkan raawi teratasnya. Sebagai contoh, bila kita ingin mencari hadits diatas, maka kita cari siapa rowinya, yaitu Abu Hurairah r.a. kemudian pada kitab musnad itu kita cari bab “musnad Abi Hurairah”. Mudah kan?
Tapi bukankah hadis riwayat Abu Hurairah itu banyak sekali? Apakah nanti tidak bingung kalo harus membaca satu persatu? Nah, Inilah kelemahan dari metode ini. Yakni hasil pencariannya masih sangat luas dan kurang spesifik.
2. Mencari hadits melalui Mathla’ul hadits (awal matan hadits). Ada beberapa kitab yang disusun berdasarkan awal matan hadits, seperti miftahus shohihaini. Dalam contoh diatas, maka kata kunci pencarian kita adalah kata-kata idza qulta. Akan tetapi tetap saja dalam memakai metode ini terdapat kelemahan, antaralain kita dituntut untuk benar-benar hafal hadits itu sebelum kita cari. Karena kalau redaksi yang kita masukkan sebagai kata kunci salah, maka hasil pencarian tidak akan sesuai dengan yang kita harapkan.
3. Mencari hadits dengan menggunakan kitab indeks. Beberapa orang sering memakai kitab “mu’jamul fahros” untuk melacak hadits. Caranya adalah dengan memakai salah satu lafdz dalam matan hadits. Bebas, tidak perlu harus lafadz pertama dalam matan hadits. Sebagai contoh untuk hadits diatas kita bisa gunakan kata-kata “anshit” atau “laghout”. Hasil pencariannya akan diarahkan ke kutub at-tis’ah, yakni Shahih Bukhori, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan Tirmidzy, Sunan Nasa’iy, Sunan Ibnu Majah, Musnad Ahmad, Sunan ad-Darimi dan Muwatho’ Malik. Jadi kelemahannya adalah untuk hadits-hadits yang hanya terdapat diluar kutub at-tis’ah maka tidak akan mendapatkan hasil.
Pelacakan hadits ini tidak hanya berguna untuk mengetahui keberadaan hadits saja, lebih dari itu juga untuk menentukan kualitas suatu hadits. Hal tersebut biasa dilakukan oleh para sarjana/ulama yang keilmuannya sudah mendalam. Bagi yang pemula, atau yang belum mencukupi bekal keilmuannya, diharapkan tidak mencoba tanpa dampingan seorang guru karena bisa-bisa jadi puyeng :D
Sabtu, 15 September 2012
Selasa, 11 September 2012
Download kitab "Sunnah Nabawiyah Bayna Ahli al-Fiqhi wa al-hadis"
Kajian tentang tafsir dan hadits sangatlah luas dan kaya. Kali ini saya ingin membagi info kepada semua sahabat-sahabat tentang caea pandang atau perspektif terhadap hadits Nabi dari sisi ahli fiqih dan ahli hadis.
Kira-kira nih ya, mengapa cara pandang mereka berbeda?
Ya tentu saja karena kecenderungan dan disiplin keilmuan mereka berbeda kan, haha
Biar tidak penasaran, beserta ini saya punya link download salah satu kitab yang membahas tentang hal itu. kitab ini berjudul "Sunnah Nabawiyah Bayna Ahli al-Fiqhi wa al-hadis" karangan Syekh Muhammad al-Ghozali. Siapakah beliau ini? Muhammad al-Ghozali adalah salah satu ulama dari Mesir yang sangat masyhur ( kata dosen saya :D).
Well, silakan menyelami samudra ilmu Hadis yang tanpa dasar..
Download kitab Muhammad al-Ghozali Disini
Sabtu, 08 September 2012
Resensi Buku – Memaknai Konsep Alienasi
Tulisan Ini dimuat di Harian Bhirawa pada 26 July 2012
Judul Buku : Alienasi; Pengantar Paling KomprehensifPenulis : Richard Schacht
Penrjemah : Muhyiddin
Penerbit : Jalasutra
Tebal : lxxii + 423 halaman
Cetakan : II/2012
ISBN : 979-3684-35-6
Harga : Rp 70.000
Peresensi : Asfaq Danial
Apa yang kita pikirkan saat mendengar kata 'alien'?. Bisa jadi seseorang berpikir sosok makhluk menyeramkan dari galaksi lain. Atau bisa jadi makhluk yang tidak pernah kita jumpai sebelumnya, alias makhluk yang asing. Alien memang bermakna asing dan bermakna tidak jauh dari keterbuangan, tercerabut dari realits sosial, kesendirian dan sebagainya. Tetapi siapa sangka, kata alienasi sudah sejak lama muncul, meski mematok makna yang berbeda. Alienation dalam bahasa Inggris sudah digunakan pada Midle English (bahasa Inggris yang digunakan dari abad 12-15). Dalam bahasa Jerman, sepadan dengan entfremdung yang ditemukan pada bahasa Midle High German, yang digunakan di Jerman Tengah dan Selatan pada interval tahun 1100 sampai 1500. Bahasa Old French atau Prancis kuno juga telah mengenal kata alienasi. Yang kesemuanya ini menginduk kata dalam bahasa latin klasik.
Dalam perkembangannya kata ini mengalami gesekan dan interaksi dari berbagai konteks sosial dan budaya, sampai muncul beberapa makna, salah satunya adalah makhluk luar angkasa tadi. Namun apabila ditilik secara mendalam, sebenarnya alienasi adalah pokok bahasan atau konsep yang pernah dan masih ramai diperbincangkan di dunia filsafat. Ia lebih dari sekedar rasa terbuang dan sepi, apalagi makhluk dari ranah antah berantah. Ia mewakili pokok pikiran para filosof-filosf besar seperti Hegel dan Karl Marx.
Dalam buku yang diadaptasi dari disertasi doktoralnya, Richard Schacht mencoba untuk mengupas tuntas seputar alienasi. Ia melihat term alienasi dalam berbagai perspektif dari mulai filsafat Hegel dan Marx, sosiologi kontemporer, psikoanalisis, kajian teologis ala Paul Tillich dan eksistensialisme Jean-Paul Sartre. Lulusan fakultas Filsafat Universitas Princeton begitu detail dan gamblang menjelaskan perspektif-perspektif itu satu persatu. Tak mengherankan buku ini diklaim sebagai literatur pengantar paling komprehensif bagi penikmat filsafat atau kaum awam yang punya minat dalam tema alienasi.
Sebelum menguraikan alienasi, Schacht terlebih dahulu mendedel makna terminologis kata ini. Alienasi mempunyai makna yang sangat luas. Ia dapat berarti peralihan kepemilikan, memindah tangankan sesuatu kepada orang lain. Dapat pula berarti keadaan tidak sadar dan kelumpuhan atau kehilangan indra atau kekuatan mental yang dialami seseorang. Makna ini berasal dari logat Middle English, yaitu alienatio mentis. Atau makna yang ketiga, yakni berupa alienasi antar personal. Yang terakhir ini adalah proses yang menjadikan hubungan hangat dengan seseorang menjadi dingin, menjadikan perpisahan atau menyebabkan seseorang tidak disukai. Jika ditilik, rentetan makna itu merujuk pada satu poin yaitu keterasingan.
Selanjutnya pembaca mulai dibawa ke ranah filsafat. Dalam bab ini, yang terlebih dahulu dikupas adalah perspektif Bapak Diskusi Kontermporer, Hegel. Apabila dirunut, memang yang pertama kali menggunakan kata ini dengan memaksudkan penekanan arti tertentu adalah Hegel. Tokoh filsafat Jerman ini mengamini istilah alienasi dalam teologi, yakni pada saat mengungkapkan keterasingan manusia dari Tuhan. Hal ini muncul dalam usaha Hegel mendiskripsikan Gereja sebagai kekuatan yang otoriter dan dogmatis yang telah menyebabkan manusia tercerabut dari kebebasannya. Padahal manusia itu otentik. Dalam ranah inilah, manusia merasa terasing, teralienasi bahkan dari Tuham itu sendiri. Sejak awal Hegel memang menaruh perhatian yang dalam terhadap masalah-masalah individu dengan sesama manusia dan dengan dunia. Kehidupan tampaknya memiliki suatu karakter "asing". Begitu juga dengan 'spirit' atau roh yang punya makna tak jauh beda dengan kehidupan (hal 32). Hal ini diungkapkan Hegel dalam esai-esai awalnya yang dikenal dengan nama fragmen-fragmen cinta.
Dan akhirnya Hegel memberikan dua makna. Pertama, memaknai hubungan yang mengandung keterpisahan dan pertentangan. Atau tercerabutnya diri dari substansi sosial. Hubungan keduanya adalah kesatuan yang lengkap dan langsung. Saat diri tercerabut sehingga kehilangan hubungan kelengkapan, ada saat jeda dimana diri sendiri mencari kesatuan atau mengidentifikasi natur manusia yang baru. Pada saat inilah hubungan individu yang bersangkutan mengalami bentrok dengan substansi sosial. Saat menemukan karakter barunya, individu tersebut akan memandang substansi sosial sebelumnya sebagi sesuatu yang liyan (others), asing. Substansi sosial lamanya telah teralienasi.
Kedua, Hegel memaknai ini sebagai upaya penyerahan diri secara penuh atas partikularitas dalam tindakannya untuk mengatasi alienasi. Sebenarnya makna ini berkaitan erat dengan makna yang awal tadi. Ketika keterasingan dan ketercerabutan individu meniscayakan suatu solusi, inilah makna kedua alienasi. Sementara alienasi -dengan arti yang pertmama tadi- dalam substansi sosial sebagai sesuatu yang sangat mendesak dan harus segera diatasai, Hegel mematut alienasi -dalam makna yang kedua ini- sebagai sesuatu yang diharapkan harus dilestarikan karena menjadi sebuah solusi(hal 65).
Sepeninggal Hegel, tepatnya pada era Marx, alienasi semakin populer. Marx mengamini dua makna alienasi seperti yang dikemukakan Hegel. Kendatipun demikian, Marx tidak sependapat dengan Hegel dalam proses tersebut. Marx berangkat dari proposisi tentang karakteristik produksi, natur pekerjaan, manusia sebagai makhluk sosial dan inderawi. Bagi Marx, 'keterasingan' adalah hasil dari 'penyerahan'. Orang merasa 'terasing' setalah ia mengorabankan atau 'menyerahkan' realitas humanitasnya kepada substansi lain -bisa dalam wujud pekerjaan atau produksi. Disini Scacht mendapuk kegagalan Marx dalam menyelaraskan pengertian Hegel. Bahkan dalam membedakan 'keterasingan' dan 'penyerahan'.(hlm 114).
Schacht mewartakan pemaknaan alienasi ala Marx berkisar dalam ranah ekonomi-politik. Wajar saja, karena sejak awal Marx memang meyakinkan dirinya kalau perkembangan kehidupan manusia merupakan perwujudan ekonomi-politik. Oleh karena itu kita menjumpai 'alienasi pekerjaan' dalam konsepnya, selain juga 'alienasi diri' dan 'alienasi dari manusia liyan'.
Yang terakhir disebut, agaknya merupakan jenis alienasi yang terpenting. Atau dalam kata lain, alienasi yang sangat mencolok. Marx menekankan hilangnya sama sekali perasaan persahabatan, persaudaraan dan persamaan pada jenis ini. Maka manusia tidak lagi dipandang sebagai manusia sejatinya yang punya signifikansi positif. Ia hanya seorang yang dimanfaatkan untuk tujuan-tujuan personal, atau sebagai kompetitor yang harus ditundukkan bahkan tak jarang sebagai bahan eksploitasi belaka. Schact menggambarkan keadaan ini dengan 'ke-egoisan manusia'. Alienasi tersebut didasarkan pada suatu keadaan yang berpusat pada diri sendiri. Keadaan yang hanya mementingkan tujuan pribadi tanpa mengekor gagasan sosial apapun.
Di buku ini Schacht juga mengkoreksi beberapa kalangan, terutama sosiolog yang dianggapnya tidak konsisten dalam memakai istilah alienasi. Beberapa nama dicomot, seperti Fromm, McClosky, dan Schaar. Tak ketinggalan Neil dan Ratting juga jadi obyeksi koreksi Schacht. Ia mendakwa mereka gagal mempersatukan konsepsi makna alienasi dan menggiringnya kepada wilayah yang tak punya batas-batas yang jelas. Sehingga mau tidak mau menimbulkan kesalah pahaman dan kebingungan pada pihak yang menyetujui pendapat mereka itu. Ia memberikan jalan keluar untuk perbaikan makna itu, dengan mengubah kapasitasnya. Yaitu sebuah istilah umun untuk mengidentifikasi jenis ketidak puasan, ketidak harmonisan dan ketidak-sukaan yang menyangkut keterasingan atau datang dari keterasingan.
Fenomena tersebut jamak dijumpai di realita kehidupan. Misal saja dalam kehidupan beragama di negeri ini. Perselisihan-perselisihan yang kerap terjadi adalah contoh dari pada kelompok yang merasa dialienasikan karena tidak sepaham dengan mayoritas. Padahal tiap orang tidak ingin hidup yang seperti itu. Jadi siapa sebenarnya yang harus melakukan 'penyerahan' substansi sosial? Andaikan saja pemerintah memahami keterasingan dalam diri mereka, dan menemukan peran penengah, tentulah tidak akan ada bentrok. Ternyata kegagalan sebuah negarapun dapat diintip melalui konsep alienasi.
Langganan:
Komentar (Atom)
