Dalam dunia hadits terdapat beberapa istilah untuk membedakan satu hadits dari hadits yang lain. Pembedaan tersebut ditinjau dari banyak segi, seperti segi jumlah perawinya, kualitasnya, kecacatan dari segi sanad dan matan hadits. Hadits tashif dan tahrif merupakan pembagian hadits dilihat dari segi cacatnya perawi hadits.
Oleh ulama hadits, hadis tashif diberikan pengertian yaitu, hadis yang secara makna ataupun lafaznya berubah menjadi berbeda dari apa yang diriwayatkan periwayat hadits yang tsiqot. Kesalahan ini, baik dalam hal penulisan, penyampaian kepada periwayat lain, atau pemahamannya, tentu saja sangat fatal dan berakibat kepada kualitas hadits itu sendiri.
Untuk lebih jeasnya, berikut ini akan kami sampaikan beberapa pembagian hadis tashif disertai dengan contoh-contohnya. Yang pertama, ditinjau dari letaknya, tashif dapat terjadi di dalam matan atau sanad hadis. Contoh yang terdapat di sanad adalah hadis dari Syu’bah yang diriwayatkan oleh al-‘Awwam ibnu murajim (mim-ra’-jim). Sanad hadis ini diubah oleh Ibnu Ma’in sehingga menjadi al-awwam bin muzahim (mim-za’-ha’). Pengubahan ini berdampak sangat besar, karena bisa menyulitkan seseorang dalam jarh wa ta’dil atau menyebabkan kesimpulan jarh wa ta’dil yang keliru.
Yang kedua adalah tashif yang terjadi di matan/teks hadis. Contohnya adalah hadis Zayd ibnu Tsabit yang berbunyi bahwa rasulullah saw mengambil batu (ihtajara, dengan alif-ha’-ta’-jim-ra’) di masjid. Oleh Ibnu Lahi’ah, teks tersebut diubah menjadi ihtajama (artinya: bekam, dengan alif-ha’-ta’-jim-mim).
Tashif dibedakan juga dari segi sumber pengubahan hadis menjadi dua macam. Tashif yang bersumber dari pengelihatan (salah membaca teks, mengenali huruf teks, mengenali titik dari suatu huruf dsb). Contohnya adalah hadits yang berbunyi “من صام رمضان وأتبعه سِتَّاً من شوال .." kata-kata Sittan, yang artinya enam, diubah menjadi syaian, yang artinya sesuatu. Yang kedua adalah tashif yang bersumber dari pendengaran. Maksudnya, pengubahan teks hadits atau sanad itu dikarenakan seorang rawi salah mendengar kata yang terucap oleh guru atau perawi diatasnya, karena beberapa alasan seperti kata-kata atau nama yang hampir sama, posisinya yang saat itu jauh sehingga suara syekh tidak terdengar jelas dsb. Contohnya adalah hadis riwayat ‘ashim al-ahwal’ oleh beberapa orang disangka ‘washil bin al-ahdab’.
Bersambung…