Selasa, 08 Oktober 2013

Tentang Kitab Tafsir al-Jawahir.

Tafsir al-Jawahir

Al-Qur’an pada prinsipnya telah menjelaskan segala hal, baik secara tersurat maupun tersirat. Termasuk juga menyinggung fenomema alam (dhawahir al-‘alam), Dan itu jauh masanya sebelum manusia di era ini mengenal dan mengembangkan ilmu pengetahuan dibidang sains (science).
            Banyak para mufassir yang menggunakan metode analitis dalam menafsiri Al-Qur’an namun hanya segelintir karya tafsir yang berbicara dengan pendekatan ilmu pengetahuan. Salah satu dari segelintir karya itu ialah tafsir Al-Jawahir karya Thanthawi al-Jauhari. Thanthawi Jauhari merupakan salah satu ilmuan modern yang melakukan terobosan penafsiran jenis ‘ilmi. Ia menulis kitab tafsir yang banyak mengupas tentang sains dan ilmu pengetahuan. Terlepas dari kontroversi boleh tidaknya tafsir bil 'ilmi, yang pasti tafsir ini memberi kontribusi penting dalam dunia penafsiran.
Salah satu kitab tafsir yang dikategorikan sebagai tafsir ilmi adalah tafsir al-Jawahir yang ditulis oleh Thanthawi Jauhari. Tantawi Jauhari lahir tahun 1870 dan berasal dari keluarga petani sederhana di wilayah al-Ghar. Ia mengawali pendidikannya di kota kelahirannya tersebut. Kepada anak-anaknya, orang tua Tantawi menginginkan mereka dapat tumbuh menjadi orang terpelajar. Oleh karenanya setelah menyelesaikan pendidikan menengah atasnya, Thanthawi dikirim oleh orang tuanya untuk melanjutkan studi ke universitas al-Azhar di ibukota Kairo.
Ketika menimba ilmu di universitas terkemuka tersebut, dia berkesempatan bertemu dengan tokoh pembaharu, Muhammad Abduh. Tokoh ini kemudian memang mampu memberikan pengaruh besar bagi pemikiran dan keilmuan Tantawi, khususnya pada bidang ilmu tafsir. Setelah itu dia melanjutkan belajarnya ke Darul Ulum dan mampu menyelesaikan pendidikan di sana tahun 1893. Akan tetapi Tantawi merasa kurang puas dengan program belajar yang diberikan, utamanya ilmu tafsir, yang antara lain dikarenakan bimbingan dari Muhammad Abduh sebelumnya hingga membuat dia memiliki cakrawala pemikiran yang luas.
Meski begitu Tantawi tetap bertekad menyelesaikan studinya. Setelah beberapa tahun kemudian, dia pun berhasil tamat pendidikan di Darul Ulum untuk selanjutnya berkiprah sebagai tenaga pengajar. Dia tercatat pernah menjadi guru di madrasah ibtidaiyah dan tsanawiyah dan kemudian sebagai dosen pada almamaternya, yakni Universitas Darul Ulum. Dan lantas tahun 1912 diangkat menjadi dosen di al-Jamiah al-Mishyriyah pada mata kuliah falsafah Islam.
Beliau layaknya seorang cendekiawan, terus mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan. Hal itu dilakukan dengan membaca buku-buku serta dari artikel di majalah dan surat kabar. Selain itu berbagai seminar maupun pertemuan ilmu pengetahuan tidak ketinggalan dihadirinya. Bidang ilmu yang menjadi fokus perhatiannya adalah ilmu tafsir. Namun dia pun mengikuti pula ilmu fisika, ilmu yang menurut pandangannya dapat menangkal kesalahpahaman yang kerap menuding Islam sebagai agama yang menentang ilmu dan teknologi modern.
Bertahun-tahun lamanya segala perhatian dicurahkan untuk meningkatkan kepedulian umat terhadap pentingnya meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui penguasaan ilmu pengetahuan. Gagasan serta pemikirannya lambat laun mulai diperhitungkan dan menjadikannya masuk dalam jajaran pemikir Islam terkemuka. Setidaknya ada tiga hal yang patut dicatat dari Tantawi Jauhari. Pertama, obsesinya untuk memajukan daya pikir umat; kedua, pentingnya ilmu bahasa dalam menguasai idiom-idiom modern, dan ketiga; pengkajiannya terhadap al-Quran sebagai satu-satunya kitab suci yang memotivasi pengembangan ilmu.[1] Beliau wafat pada tahun 1940 dan banyak meninggalkan karya yang berkontribusi bagi kemajuan umat islam.
Thanthawi Jauhari menulis sebuah kitab tafsir yang ia namakan tafsir al-jawahir. Tafsir ini terdiri dari dua puluh lima jilid. Dari kitab karangannya ini beliau mengharapkan, agar Allah berkenan melapangkan hati, agar menjadi petunjuk bagi ummat dan agar mata kaum muslimin menjadi terbuka sehingga dapat menguasai ilmu kawniyah (sains). Beliau juga berharap Allah menguatkan agama islam dan nantinya dari kaum muslimin ada yang mengarang berdasarkan metodenya. Selain itu agar kitabnya dibaca umat muslim diseluruh dunia dan diterima dengan baik. Dan yang paling penting adalah mengundang atau mendorong umat muslim untuk mempelajari ilmu sains.
Dilihat dari bentuknya, kitab tafsir Al-Jawahir ini ditulis dengan menggunakan metode tahlili. Metode tahlili adalah suatu metode yang bermaksud menjelaskan kandungan ayat-ayat al-quran dari seluruh aspeknya. Di dalam tafsirnya. Penafsir mengikuti runtutan ayat sebagaimana telah tersusun di dalam mushaf. Penafsir memulai uraiannya dengan mengemukakan arti kosakata diikuti dengan penjelasan mengenai arti global ayat. Ia juga mengemukakan munasabah ayat-ayat serta menjelaskan hubungan maksud ayat-ayat tersebut satu sama lain. [2]
Dinukil dari Dr. Abdul Majid Abdus Salam, Tantawi Jauhari dalam menulis tafsirnya dimulai dengan menjelaskan arti ayat al-quran, kemudian menjelaskannya sampai terasa cukup penjelasannya. Beliau juga tidak segan mengutip penjelasan dari injil maupun taurat, utamanya injil Barnabas, yang ia anggap paling sesuai dengan al-qur’an. Kita juga bisa melihat bahwa beliau juga terpengaruh oleh pandangan Muhammad Abduh, pengarang tafsir al-Manar, yang membawa semangat pembaharuan dalam islam.  Beliau juga menambah beberapa keterangan dengan menggunakan gambar-gambar berupa tumbuhan atau binatang, gambar alam, percobaan ilmiah, jadwal ilmiah dengan tujuan memberikan penjelasan yang sejelas-jelasnya kepada pembaca.[3]
Corak penafsiran adalah dominasi pemikiran penafsir dalam menuangkan analisanya terhadap ayat-ayat al-quran. Secara spontan kita mengetahui bahwa tafsir al-jawahir ini mempunyai corak tafsir ilmi. Karena di dalam tafsir ini nampak pembahasan-pembahasan dengan menggunakan teori-teori ilmu pengetahuan dan hasil eksperimen ilmiah untuk menjelaskan ayat dalam al-Qur’an. Corak ini muncul karena Ajakan al-quran adalah ajakan illmiah, yang berdiri di atas prinsip pembebasan akal dari takhayul dan kemerdekaan berpikir. Al-quran menyuruh umat manusia memperhatikan alam. Allah swt disamping  menyuruh kita memperhatikan wahyu-Nya, yang tertulis, sekaligus juga menganjurkan kita agar memperhatikan wahyu-Nya yang tampak yaitu alam. Karena inilah kita menemuan banyak ayat al-quran yang diakhiri kalimat semacam li qawmin ya’lamun, li qawmin yatafakkarun dsb.
Meskipun ayat-ayat kawniyah itu secara tegas tidak ditujukan kepada para ilmuwan namun pada hakikatnya mereka itulah yang diharapkan untuk meneliti dan memahami ayat-ayat kauniyah tersebut karena mereka mempunyai sarana dan kompetensi untuk itu dibandingkan orang-orang lain. Sebagaimana tak seorangpun yang mampu merasakan keindahan bahasa kecuali para ahli balaghah, dan tak seorangpun yang dapat membedakan permata yang asli dan berharga selain orang yang ahli.[4]
Berikut ini kami coba untuk menampilkan contoh penafsiran Thanthawi Jauhari, yaitu surat al-Anbiya’ ayat 30,
أولم يرى الذين كفروا أن السماوات و الأرض كانتا رتقا ..... الأية
            “Telah jelas bagi kamu, apa yaang dimaksudkan oleh al-qur’an ratusan tahun silam, bahwa langit dan bumi, yakni matahari dan planet-planet, mulanya rapat kemudian Allah swt memisahkannya. Menurut pendapat kami,  ini adalah suatu mukjizat. Karena ini adalah suatu pengetahuan yang belum diketahui manusia kecuali pada waktu dewasa ini. Bukankah engkau melihat bahwa banyak mufasir berpendapat: “Sesungguhnya orang-orang kafir pada waktu itu tidak mengetahui hal ini. Dan pengetahuan mereka adalah ayat ini sendiri.” Dan pengetahuan yang tersimpan ini telah kami temukan dijelaskan oleh Allah melalui tangan orang-orang Eropa. Sebagaimana al-quran menuturkan disini, seolah-olah  Allah berfirman: Orang-orang kafir akan mengetahui bahwa langit dan bumi itu mulanya rapat, lalu kami pisahkan keduanya. Meskipun al-quran menuturkan dalam bentuk madhi, tapi sebenarnya yang diinginkan adalah makna mustaqbal, hal ini sebagaimana firman Allah  Ata amrullah …. (QS an-Nahl: 1). Ini adalah mukjizat al-quran dan hal yang mengagumkan yang pernah didengar manusia. [5]
           




[1] http://www.referensimakalah.com/2012/05/biografi-singkat-tantawi-jauhari_8433.html
[2] Abdul Hayyi al-Farmawi, Metode Tafsir Mawdhu’iy; Suatu Pengantar, (Raja Grafindo Persada: Jakarta) 1996,  hlm: 12.
[3] Dr. Abdul Majid Abdus Salam, Ittijahat at-Tafsir fi al-Ashri al-Hadits, (Darul Fikr: Beirut) 1973, hlm: 274
[4] Abdul Hayyi al-Farmawi, Hlm 22
[5] Thanthawi Jauhari, Tafsir al-Jawahir, juz 10 hlm 199.