Al-Qur’an pada
prinsipnya telah menjelaskan segala
hal, baik secara tersurat maupun tersirat. Termasuk juga menyinggung fenomema
alam (dhawahir al-‘alam), Dan itu jauh masanya sebelum manusia di era
ini mengenal dan mengembangkan ilmu pengetahuan dibidang sains (science).
Banyak
para mufassir yang menggunakan metode analitis dalam menafsiri Al-Qur’an namun
hanya segelintir karya tafsir yang berbicara dengan pendekatan ilmu
pengetahuan. Salah satu dari segelintir karya itu ialah tafsir Al-Jawahir karya
Thanthawi al-Jauhari. Thanthawi Jauhari
merupakan salah satu ilmuan modern yang
melakukan terobosan penafsiran jenis ‘ilmi. Ia menulis kitab tafsir yang banyak mengupas tentang sains dan ilmu pengetahuan. Terlepas dari
kontroversi boleh tidaknya tafsir bil 'ilmi, yang pasti tafsir ini
memberi kontribusi penting dalam dunia penafsiran.
Salah satu
kitab tafsir yang dikategorikan sebagai tafsir ilmi adalah tafsir al-Jawahir
yang ditulis oleh Thanthawi Jauhari. Tantawi Jauhari lahir tahun 1870 dan berasal
dari keluarga petani sederhana di wilayah al-Ghar. Ia mengawali pendidikannya
di kota kelahirannya tersebut. Kepada anak-anaknya, orang tua Tantawi
menginginkan mereka dapat tumbuh menjadi orang terpelajar. Oleh karenanya
setelah menyelesaikan pendidikan menengah atasnya, Thanthawi dikirim oleh orang
tuanya untuk melanjutkan studi ke universitas al-Azhar di ibukota Kairo.
Ketika menimba
ilmu di universitas terkemuka tersebut, dia berkesempatan bertemu dengan tokoh
pembaharu, Muhammad Abduh. Tokoh ini kemudian memang mampu memberikan pengaruh
besar bagi pemikiran dan keilmuan Tantawi, khususnya pada bidang ilmu tafsir.
Setelah itu dia melanjutkan belajarnya ke Darul Ulum dan mampu menyelesaikan
pendidikan di sana tahun 1893. Akan tetapi Tantawi merasa kurang puas dengan
program belajar yang diberikan, utamanya ilmu tafsir, yang antara lain
dikarenakan bimbingan dari Muhammad Abduh sebelumnya hingga membuat dia
memiliki cakrawala pemikiran yang luas.
Meski begitu
Tantawi tetap bertekad menyelesaikan studinya. Setelah beberapa tahun kemudian,
dia pun berhasil tamat pendidikan di Darul Ulum untuk selanjutnya berkiprah
sebagai tenaga pengajar. Dia tercatat pernah menjadi guru di madrasah
ibtidaiyah dan tsanawiyah dan kemudian sebagai dosen pada almamaternya, yakni
Universitas Darul Ulum. Dan lantas tahun 1912 diangkat menjadi dosen di
al-Jamiah al-Mishyriyah pada mata kuliah falsafah Islam.
Beliau
layaknya seorang cendekiawan, terus mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan.
Hal itu dilakukan dengan membaca buku-buku serta dari artikel di majalah dan
surat kabar. Selain itu berbagai seminar maupun pertemuan ilmu pengetahuan
tidak ketinggalan dihadirinya. Bidang ilmu yang menjadi fokus perhatiannya
adalah ilmu tafsir. Namun dia pun mengikuti pula ilmu fisika, ilmu yang menurut
pandangannya dapat menangkal kesalahpahaman yang kerap menuding Islam sebagai
agama yang menentang ilmu dan teknologi modern.
Bertahun-tahun
lamanya segala perhatian dicurahkan untuk meningkatkan kepedulian umat terhadap
pentingnya meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui penguasaan ilmu
pengetahuan. Gagasan serta pemikirannya lambat laun mulai diperhitungkan dan
menjadikannya masuk dalam jajaran pemikir Islam terkemuka. Setidaknya ada tiga
hal yang patut dicatat dari Tantawi Jauhari. Pertama, obsesinya untuk memajukan
daya pikir umat; kedua, pentingnya ilmu bahasa dalam menguasai idiom-idiom
modern, dan ketiga; pengkajiannya terhadap al-Quran sebagai satu-satunya kitab
suci yang memotivasi pengembangan ilmu.[1]
Beliau wafat pada tahun 1940 dan banyak meninggalkan karya yang berkontribusi
bagi kemajuan umat islam.
Thanthawi
Jauhari menulis sebuah kitab tafsir yang ia namakan tafsir al-jawahir.
Tafsir ini terdiri dari dua puluh lima jilid. Dari kitab karangannya ini beliau
mengharapkan, agar Allah berkenan melapangkan hati, agar menjadi petunjuk bagi
ummat dan agar mata kaum muslimin menjadi terbuka sehingga dapat menguasai ilmu
kawniyah (sains). Beliau juga berharap Allah menguatkan agama islam dan
nantinya dari kaum muslimin ada yang mengarang berdasarkan metodenya. Selain
itu agar kitabnya dibaca umat muslim diseluruh dunia dan diterima dengan baik. Dan
yang paling penting adalah mengundang atau mendorong umat muslim untuk
mempelajari ilmu sains.
Dilihat dari bentuknya,
kitab tafsir Al-Jawahir ini ditulis dengan menggunakan metode tahlili. Metode
tahlili adalah suatu metode yang bermaksud menjelaskan kandungan ayat-ayat
al-quran dari seluruh aspeknya. Di dalam tafsirnya. Penafsir mengikuti runtutan
ayat sebagaimana telah tersusun di dalam mushaf. Penafsir memulai uraiannya
dengan mengemukakan arti kosakata diikuti dengan penjelasan mengenai arti
global ayat. Ia juga mengemukakan munasabah ayat-ayat serta menjelaskan
hubungan maksud ayat-ayat tersebut satu sama lain. [2]
Dinukil dari
Dr. Abdul Majid Abdus Salam, Tantawi Jauhari dalam menulis tafsirnya dimulai
dengan menjelaskan arti ayat al-quran, kemudian menjelaskannya sampai terasa
cukup penjelasannya. Beliau juga tidak segan mengutip penjelasan dari injil
maupun taurat, utamanya injil Barnabas, yang ia anggap paling sesuai dengan
al-qur’an. Kita juga bisa melihat bahwa beliau juga terpengaruh oleh pandangan
Muhammad Abduh, pengarang tafsir al-Manar, yang membawa semangat pembaharuan
dalam islam. Beliau juga menambah
beberapa keterangan dengan menggunakan gambar-gambar berupa tumbuhan atau
binatang, gambar alam, percobaan ilmiah, jadwal ilmiah dengan tujuan memberikan
penjelasan yang sejelas-jelasnya kepada pembaca.[3]
Corak
penafsiran adalah dominasi pemikiran penafsir dalam menuangkan analisanya
terhadap ayat-ayat al-quran. Secara spontan kita mengetahui bahwa tafsir
al-jawahir ini mempunyai corak tafsir ilmi. Karena di dalam tafsir ini nampak
pembahasan-pembahasan dengan menggunakan teori-teori ilmu pengetahuan dan hasil
eksperimen ilmiah untuk menjelaskan ayat dalam al-Qur’an. Corak ini muncul
karena Ajakan al-quran adalah ajakan illmiah, yang berdiri di atas prinsip
pembebasan akal dari takhayul dan kemerdekaan berpikir. Al-quran menyuruh umat
manusia memperhatikan alam. Allah swt disamping
menyuruh kita memperhatikan wahyu-Nya, yang tertulis, sekaligus juga
menganjurkan kita agar memperhatikan wahyu-Nya yang tampak yaitu alam. Karena
inilah kita menemuan banyak ayat al-quran yang diakhiri kalimat semacam li
qawmin ya’lamun, li qawmin yatafakkarun dsb.
Meskipun
ayat-ayat kawniyah itu secara tegas tidak ditujukan kepada para ilmuwan namun
pada hakikatnya mereka itulah yang diharapkan untuk meneliti dan memahami
ayat-ayat kauniyah tersebut karena mereka mempunyai sarana dan kompetensi untuk
itu dibandingkan orang-orang lain. Sebagaimana tak seorangpun yang mampu
merasakan keindahan bahasa kecuali para ahli balaghah, dan tak seorangpun yang
dapat membedakan permata yang asli dan berharga selain orang yang ahli.[4]
Berikut ini kami
coba untuk menampilkan contoh penafsiran Thanthawi Jauhari, yaitu surat
al-Anbiya’ ayat 30,
أولم
يرى الذين كفروا أن السماوات و الأرض كانتا رتقا ..... الأية
“Telah
jelas bagi kamu, apa yaang dimaksudkan oleh al-qur’an ratusan tahun silam,
bahwa langit dan bumi, yakni matahari dan planet-planet, mulanya rapat kemudian
Allah swt memisahkannya. Menurut pendapat kami,
ini adalah suatu mukjizat. Karena ini adalah suatu pengetahuan yang
belum diketahui manusia kecuali pada waktu dewasa ini. Bukankah engkau melihat
bahwa banyak mufasir berpendapat: “Sesungguhnya orang-orang kafir pada waktu
itu tidak mengetahui hal ini. Dan pengetahuan mereka adalah ayat ini sendiri.”
Dan pengetahuan yang tersimpan ini telah kami temukan dijelaskan oleh Allah
melalui tangan orang-orang Eropa. Sebagaimana al-quran menuturkan disini,
seolah-olah Allah berfirman: Orang-orang
kafir akan mengetahui bahwa langit dan bumi itu mulanya rapat, lalu kami
pisahkan keduanya. Meskipun al-quran menuturkan dalam bentuk madhi, tapi
sebenarnya yang diinginkan adalah makna mustaqbal, hal ini sebagaimana firman
Allah Ata amrullah …. (QS
an-Nahl: 1). Ini adalah mukjizat al-quran dan hal yang mengagumkan yang pernah
didengar manusia. [5]
[1] http://www.referensimakalah.com/2012/05/biografi-singkat-tantawi-jauhari_8433.html
[2] Abdul Hayyi al-Farmawi, Metode Tafsir
Mawdhu’iy; Suatu Pengantar, (Raja Grafindo Persada: Jakarta) 1996, hlm: 12.
[3] Dr. Abdul Majid Abdus Salam, Ittijahat
at-Tafsir fi al-Ashri al-Hadits, (Darul Fikr: Beirut) 1973, hlm: 274
[4] Abdul Hayyi al-Farmawi, Hlm 22
[5] Thanthawi Jauhari, Tafsir al-Jawahir, juz 10
hlm 199.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar