A.
Pendahuluan
Salah satu aspek kemukjizatan al-qur’an adalah sari segi
pemberitaannya tentang hal-hal yang gaib. Hal itu menunjukkan sebuah tanda yang
jelas dan pasti bahwa al-qur’an bukanlah ucapan seorang manusia, melainkan
ucapan dari Yang Maha Mengetahui Hal-hal Ghaib.
Ghaib adalah sesuatu yang tidak diketahui, tidak nyata atau
tersembunyi. Penulis buku Mukjizat al-qur’an, Muhammad Quraish Shihab,
memberikan sebuah ilustrasi tentang pengertian gaib. Misalnya, jika anda
menyimpan sesuatu dalam saku anda, maka sesuatu itu adalah gaib bagi orang
lain, tetapi tidak bagi anda. Suatu ketika apabila yang berada dalam saku anda
diketahui oleh mereka yang tidak mengetahuinya sebelum ini, maka ketika itu apa
yang ada dalam saku anda bukan lagi merupakan sesuatu yang gaib bagi orang itu.
Akan tetapi ada sekian banyak hal yang tidak
mungkin diketahui manusia dalam kehidupan ini, misalnya kapan terjadinya hari
kiamat, atau kapan datangnya kematian. Dari sini terlihat bahwa gaib
bertingkat-tingkat, ada yang nisbi, dalam arti ia gaib bagi seseorang tapi bagi
lainnya tidak, atau pada waktu tertentu gaib dan pada waktu lain tidak.
Misalnya, dulu orang mengetahuinya tetapi kini, setelah berlalu sekian lama
waktu, tidak diketahui lagi, atau sebaliknya. Ada juga gaib yang sifatnya
mutlak.
Dalam makalah ini, insya Allah akan dijelaskan
seputar mukjizat al-qur’an dari aspek pembertiaan gaib. Dan penyusun sengaja
mengambilkan materi ini dengan meringkas tulisan Quraish Shihab dari bukunya
yang berjudul Mukjizat Al-Qur’an karena didalamnya dijelaskan dengan
cukup lengkap. Semoga dapat memberikan
manfaat dan pencerahan.
B.
Beberapa Kabar
Gaib di dalam Al-Qur’an
Al-qur’an mengungkap sekian banyak ragam hal gaib. Al-qur’an
mengungkap kejadian masa lalu yang tidak diketahui lagi oleh manusia, karena
masanya telah demikian lama, dan mengungkap juga peristiwa masa datang atau
masa kini yang belum diketahui manusia.
Peristiwa gaib masa lampau yang diungkapkan oleh al-qur’an, misalnya,
adalah peristiwa tenggelamnya Firaun dan diselamatkannya badannya, atau
peristiwa ashabu al-kahfi (sekelompok pemuda yang berlindung ke gua dan
hidup selama tiga ratus tahun lebih). Sementara peristiwa masa datang yang
diungkapkannya dapat dibagi menjadi dua bagian. Pertama, telah terjadi
kini setelah sebelumnya al-qur’an menguraikan bakal terjadinya. Misalnya, pemberitaan
al-qur’an tentang akan terjadinya kemenangan bangsa romawi atas persia pada
masa sekitar sembilan tahun sebelum kejadiannya. Kedua, peristiwa masa
datang yang belum lagi terjadi, seperti peristiwa kehadiran seekor binatang
yang “bercakap” menjelang hari Kiamat.
Tentu saja peristiwa masa datang yang belum
terjadi tidak dapat dijadikan bukti kemukjizatan al-qur’an dari aspek
pemberitaan gaibnya. Karena, bagi orang yang tidak percaya boleh jadi ia
mengatakan bahwa berita ini hanya bualan semata, dalam arti tidak benar. Tetapi
peristiwa masa datang yang telah terbukti kebenarannya, atau peristiwa masa
lampau yang tidak dikenal masyarakat pada masa turunnya al-qur’an dan masa yang
jauh sesudahnya, kemudian diungkap oleh al-qur’an, dapat menjadi bukti bahwa
informasi tersebut datangnya pasti bukan dari manusia, tetapi dari Allah Yang Maha
Mengetahui.
C.
Berita tentang
Masa Lampau
Al-qur’an mengisahkan sekian banyak peristiwa masa lampau. Harus
diakui bahwa sebagian dari kisah-kisahnya tidak atau belum dapat dibuktikan
kebenarannya hingga kini, tetapi sebagian lainnya telah terbukti, antara lain
melalui penelitian arkeologi. Kendati terdapat sekian banyak kisahnya yang
belum terbukti, tidaklah wajar menolak kisah-kisah tersebut hanya dengan alasan
bahwa kisah itu belum terbukti kebenarannya, juga belum terbukti kekeliruannya.
Berikut dikemukakan beberapa contoh dari informasi kisah-kiahnya
yang telah terbukti.
a.
Kaum ‘Ad dan Tsamud serta
kehancuran kota Iram.
Al-qur’an berbicara tentang kaum Tsamud dan Ad yang kepada mereka
diutus Nabi Shaleh dan Hud. Namun karena kedurhakaan mereka, Allah menurunkan
azab berupa gempa dan angin ribut yang sangat dingin lagi kencang. Hal ini
dilukiskan oleh QS al-Haqqah (69):4-7
Kaum
Tsamud dan Ad telah mendustakan hari kiamat, Adapun Tsamud maka mereka telah
dibinasakan dengan kejadian yang luar biasa (petir dan suaranya yang
menghancurkan) sedangkan kaum Ad telah dibinasakan dengan angin yang sangat
dingin lagi kencang. Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh
malam dan delapan hari secara terus menerus, maka kamu lihat kaun Ad ketika
itu, mati bergelimpangan bagaikan tunggul-tunggul pohon kurma yang telah kosong
(lapuk).
Ditempat lain, al-qur’an menguraikan bahwa
kaum ‘Ad memiliki kemampuan luar biasa sehingga mereka telah mambangun kota
Iram dengan tiang-tiang yang tinggi dan yang belum pernah dibangun dinegeri
lain sehebat dan seindah itu sebelumnya.[1]
Pada
tahun 1834 ditemukan sebuah naskah bertuliskan aksara Arab lama (Hymarite) yang
menunjukkan nama Nabi Hud. Dalam naskah itu antaralain tertulis “kami
memerintah dengan hukum yang digunakan Nabi Hud”. Selanjutnya pada tahun
1964-1969 dilakukan penggalian arkeologis dan dari hasil analisis pada 1980
ditemukan informasi dari salah satu lempeng tentang adanya kota yang disebut
Shamutu, Ad dan Iram. Prof Pettinato[2]
mengidentifikasikan nama-nama tersebut dengan nama-nama yang disebut pada surat
al-Fajr ayat 6-9.
Bukti
arkeologis lain tentang kota Iram adalah hasil ekspedisi Nicholas Clapp[3]
di gurun Arabia Selatan pada tahun 1992. Kota Iram menurut riwayat-riwayat adalah
kota yang dibangun oleh Shadda bin Udd, sebuah kota indah yang dulu bernama
Ubhur. Nicholas menemukan bukti dari seorang penjelajah tentan jalan kuno ke
Iram atau Ubhur. Kemudian atas bantuan dua orang lainnya, Juris Zarin dari
Universitas Negara Bagian Missouri Barat, dan penjelajah Inggris Sir Ranulph
Fiennes mereka berusaha mencari kota yang hilang itu bersama dengan ahli hukum
George Hedges.
Mereka
menggunakan jasa pesawat ulang alik Chalengger dengan sistem Satellite Imaging
Radar untuk mengintip bagian bawah Gurun Arabia, yang diduga sebagai tempat
tenggelamnya kota yang terkena longsoran itu. Mereka menemukan citra digital
berupa garis putih pucat yang menandai beratus-ratus kilometer rute kafilah
yang ditinggalkan, sebagian berada di bawah tumpukan pasir yang telah menimbun
selama berabad-abad hingga mencapai ketinggian 183 meter.
Berdasarkan
data ini Nicholas dan para rekannya meneliti tanah tersebut dan melakukan
pencarian pada akhir tahun 1991. Pada Februari 1992 mereka menemukan bangunan
segi delapan dengan dinding dan menara yang tinggi, mencapai sekitar sembilan
meter. Agaknya, itulah yang sebagian dari apa yang diceritakan oleh Al-qur’an
bahwa “Penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi” pada
Al-Fajr:7.
b.
Berita tentang Tenggelam dan
Selamatnya Badan Fir’aun.
Dalam al-Qur’an ditemukan sekitar
tiga puluh kali Allah swt menguraikan kisah Musa dan Fir’aun, suatu kisah yang
tidak oleh masyarakat ketika itu, kecuali melalui kitab perjanjian Lama.
Tetapi, suatu hal yang menakjubkan adalah bahwa Nabi Muhammad saw, melalui
al-qur’an telah mengungkap suatu perincian yang sama sekali tidak diungkap oleh
suatu kitab pun sebelumnya, bahkan tidak diketahui kecuali yang hidup pada masa
terjadinya peristiwa tersebut, yakni pada abad kedua belas SM atau sekitar
3.200 tahun yang lalu.
Mari kita simak al-Qur’an dalam
mengungkap sekelumit kisah tentang Fir’aun
*
Dan kami memungkinkan Bani Israil
melintasi laut. Merekapun diikuti oleh Fir’aun dan tentaranya, karena mereka
hendak menganiaya dan menindas (Bani Israil). Ketika Fir’aun telah hampir
tenggelam, berkatalah dia, “saya percaya bahwa tidak ada tuhan melainkan Tuhan
yang disembah oleh Bani Israil dan Saya termasuk orang-orang yang berserah diri
(kepada-Nya)”. (Allah menyambut ucapan Fir’aun ini dengan berfirman), “Apakah
sekarang (baru kamu percaya) padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak
dahulu dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. Hari ini kami
selamatkan badanmu, supaya kamu menjadi pelajaran bagi (generasi) yang adatang
sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan
kami. (QS Yunus [10] :90-92)
Yang perlu digarisbawahi dalam
konteks pembicaraan kita adalah firmnan-Nya: Hari ini kami selamatkan
badanmu agar engkau menjadi pelajaran bagi generasi yang datang sesudahmu”
Memang orang mengetahui bahwa
Fir’aun tenggelam di Laut Merah ketika mengejar Nabi Musa dan kaumnya. Tetapi
menyangkut keselamatan badannya dan menjadi pelajaran bagi generasi sesudahnya
merupakan suatu hal yang tidak diketahui siapapun pada masa Nabi Muhammad,
nahkan tidak disinggung oleh Perjanjian Lama dan Baru.
Maspero, seorang pakar sejarah
Mesir kuno, menjelaskan dalam petunjuk bagi pengunjung Museum Mesir, setelah
mempelajari dokumen-dokumen yang ditemukan di Alexandria Mesir, bahwa penguasa
mesir yang tenggelam itu bernama Maneptah (atau Memptah?) yang kemudian oleh
Sejarawan Driaton dan Vendel, melalui dokumen-dokumen lain, membuktikan bahwa
penguasa Mesir itu memerintah antara 1224 SM hingga 1214 SM, atau 1204 menurut
pendapat lain.
Sekali lagi pada masa turunnya
al-Qur’an lima belas abad yang lalu, tidak seorang pun yang mengetahui dimana
sebenarnya penguasa yang tenggekam itu berada, dan bagaimana pula kesudahan
yang dialaminya. Namun pada 1986, Purbakalawan Lorent, menemukan jenazah tokoh
tersebut dalam bentuk Mumi di Wadi al-Muluk (Lembah Para Raja) berada di daerah
Thaba, Luxor, di seberang sungai Nil Mesir. Kemudian pada 8 Juli 1907, Elliot
Smith membuka pembalut-pembalut mumi itu dan ternyata badan Fir’aun tersebut
dalam keadaan utuh.
Pada Juni 1975, ahli bedah
Perancis, Maurice Bucaille, mendapat izin untuk melakukan penelitian lebih
lanjut tentang Mumi tersebut dan menemukan bahwa Fir’aun meninggal di Laut. Ini
terbukti dari bekas-bekas garam yang memenuhi sekujur tubuhnya, walalupun sebab
kematiannya-menurut para pakar tersebut- diakibatkan oleh shock.
Bucaille pada akhirnya berkesimpulan bahwa:
Alangkah agungnya contoh-contoh yang diberikan
oleh ayat-ayat al-Qur’an tentang tubuh Fir’aun yang sekarang berada di Ruang
Mumi Museum Mesir di kota Kairo. Penyelidikan dan penemuan modern telah
menunjukkan kebenaran al-qur’an.
Betapa
ia tidak menunjukkan kebenaran kebenarannya, sedangkan informasi-Nya tentang
diselamatkannya jasad Fir’aun untuk menjadi pelajaran bagi generasi sesudahnya
terbukti dengan sangat jelas. Sayang sekitar pada tahun 1985, pemerintah mesir
menutup kamar tempat penyimpanan mumi itu untuk umum, karena rupanya pengaruh udara
dari luar dan polusi yang disebabkan oleh mikro-organisme telah memengaruhi
keadaan mumi itu. Namun demikian kebenaran pemberitaan ghaib al-Qur’an telah
dapat dibuktikan.
c.
Ashab al-kahfi
Keraguan masyarakat Arab Makkah
tentang kenabian Muhammad saw dan kebenaran al-qur’an terus berlanjut. Mereka
mengutus tiga orang untuk menemui tokoh agama Yahudi Najran guna meminta
tanggapan mereka tentang Muhammad. Para tokoh Yahudi tersebut mengusulkan agar
kaum musyrik mekkah bertanya kepada Nabi tentang tiga hal. Jika menjawabnya
dengan baik, maka dia seorang Nabi. “Lalu tanyakan pula satu hal lain, dan jika
dia menduga tahu dia berbohong.” Demikian ucap orang-orang Yahudi. Ketiga hal
tersebut adalah, pertama, kisah sekelompok pemuda yang masuk berlindung
dan tidur sekian lama. Berapa jumlah mereka san siapa atau apa yang bersama
mereka? Kedua, kisah Musa, ketika diperintahkan Tuhan untuk belajar. Ketiga,
kisah seorang penjelajah ke Timur dan ke Barat. Adapun keempat, yang
ia berbohong kalau mengetahui jawabannya, adalah kapan terjadinya hari kiamat.
Benarkah informasi atau jawaban
al-qur’an bahwa terdapat tujuh orang pemuda bersama seekor anjing yang
berlindung dari kekejaman penguasa masanya menuju gua? (QS al-Kahfi [18]:22) Benarkah
mereka tertidur di gua selama 300 tahun menurut erhitungan syamsiyah atau 309
tahun menurut perhitungan Qamariah? (QS al-Kahfi [18] :21) Benarkah ketika
mereka terbangun dan diketahui oleh masyarakat, mereka disambut baik, karena ketika
itu penguasa tidak lagi menindas penganut-penganut agama Kristen (QS al-Kahfi
[18]: 21)? Benarkah bahwa diatas lokasi gua mereka kemusian dibangun tempat
peribadatan? (QS al-Kahfi [18] : 21).
*
Engkau
melihat matahari ketika terbit condong dari gua mereka ke sebelah kanan dan
apabila terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedangkan mereka berada dalam
tempat yang luas dalam gua itu. (QS al-Kahfi[18]: 17)
Tidak
mudah membuktikan keberadaan gua tersebut sebelum maraknya penelitian
arkeologis. Namun, sebagaimana menurut Thaba’thaba’I dalam tafsirnya,
sumber-sumber baratpun menyebutkan palling tidak empat kesimpulan tentang
ashabul Kahfi, yang walaupun berbeda dalam perinciannya sama dalam pokok kisahnya.
Disisi
lain, telah ditemukan banyak gua di Epsus, Damaskus dan Iskandinavia yang
amsing-masing penemunya mengklaim bahwa gua itulah yang merupakan gua ashab
al-Kahfi, tetapi sayang, ciri-ciri gua tidak sepenuhnya sama dengan apa yang
dilukiskan oleh al-Qur’an. Nanti pada 1963, Rafiq Wafa ad-Dajani, seorang
arkeolog Yordania, menemukan sebuah gua yang terletak sekitar delapan puluh
kilometer dari Amman, Ibukota Yordania, dan memiliki ciri-ciri seperti yang
dilukiskan al-Qur’an.
Gua
tersebut berada diatas dataran tinggi menuju arah tenggara sedangkan kedua
sisinya berada disebelah timur dan barat dan terbuka sedemikian rupa sehingga
cahaya matahari menembus ke dalam. Di dalam gua terdapat ruangan kecil yang
luasnya sekitar tiga kali dua setengah meter. Pada dinding-dindingnya terdapat
tulisan Yunani kuno, tetapi tidak terbaca lagi, sebagaimana terdapat pula
gambar seekor anjing dan beberapa ornamen.
Diatas
gua tersebut terdapat tempat peribadatan ala Bizantium, mata uang, dan
peninggalan-peninggalan yang ditemukan di sekitarnya menunjukkan bahwa tempat
tersebut dibangun pada masa pemerintahan Kaisar Justianus I (418-427).
Ciri-ciri yang demikian itu dapat dikatakan sesuai dengan ciri-ciri yang
dikemukakan al-Qur’an seperti terbaca sebelumnya.
Disisi
lain, para sejarawan Muslim dan Kristen mengakui bahwa penguasa yang menindas
pengikut-pengikut Isa antaralain adalah yang memerintah pada 98-117M dansekitar
pada tahun 112M menetapkan bahwa setiap orang yang menolak menyembah dewa-dewa
dijatuhi hukuman sebagai pengkhianat. Para sejarawan Kristen dan Muslim pun
sepakat bahwa penguasa yang bijaksan adalah Theodosius yang memerintah selama
tahun 408-451M.
Disini
sekali lagi, bertemulah informasi dari sejarawan dan al-qur’an, yakni apabila
diatas dikatakan bahwa para pemuda yang berlindung itu menghindar dari
ketetapan penguasa yang dikeluarkan pada 112 M itu, dan bahwa mereka tidur
selama 300 tahun, ini berarti mereka terbangun dari tidur pada sekitar tahun
412 M, yakni pada masa pemerintahan penguasa yang membebaskan orang-orang
Kristen dari penindasan. Dari sejarah
ini juga diketahui mengapa peristiwa ini tidak terdapat dalam perjanjian baru
dan Perjanjian Lama, karena memang terjadinya jauh sebelum masa Isa as.
D.
Penutup
Beberapa
kabar ghaib yang diceritakan dalam al-qur’an adalah suatu mukjizat. Keberadaan
kabar-kabar itu membuktikan bahwa al-qur’an datang bukan dari diri Muhammad
saw, tetapi merupakan wahyu yang diberikan oleh Yang Maha Megetahui Persoalan
Ghaib, Allah swt. Tiga contoh diatas merupakan sebagian bukti yang membenarkan kebenaran al-Qur’an.
Semoga bermanfaat.
E.
Daftar Pustaka
Shihab, Quraish, Mukjizat al-Qur’an, (Mizan: Bandung) 2013
[1] Lihat QS al-Fajr (89) : 6-9.
[2] Giovanni Pettinato(1934-2011), seorang berkebangsaan
Italia, profesor pada bidang paleografi atau ahli tulisan kuno Timur Dekat,
spesifikasinya adalah bahasa Ebla. Lebih lengkapnya cek: http://en.wikipedia.org/wiki/Giovanni_Pettinato.

