Kamis, 28 November 2013

Berita Ghaib Al-Qur'an



Mukjizat Al-Qur’an dari Aspek Pemberitaan Ghaib
A.    Pendahuluan
Salah satu aspek kemukjizatan al-qur’an adalah sari segi pemberitaannya tentang hal-hal yang gaib. Hal itu menunjukkan sebuah tanda yang jelas dan pasti bahwa al-qur’an bukanlah ucapan seorang manusia, melainkan ucapan dari Yang Maha Mengetahui Hal-hal Ghaib.
Ghaib adalah sesuatu yang tidak diketahui, tidak nyata atau tersembunyi. Penulis buku Mukjizat al-qur’an, Muhammad Quraish Shihab, memberikan sebuah ilustrasi tentang pengertian gaib. Misalnya, jika anda menyimpan sesuatu dalam saku anda, maka sesuatu itu adalah gaib bagi orang lain, tetapi tidak bagi anda. Suatu ketika apabila yang berada dalam saku anda diketahui oleh mereka yang tidak mengetahuinya sebelum ini, maka ketika itu apa yang ada dalam saku anda bukan lagi merupakan sesuatu yang gaib bagi orang itu.
Akan tetapi ada sekian banyak hal yang tidak mungkin diketahui manusia dalam kehidupan ini, misalnya kapan terjadinya hari kiamat, atau kapan datangnya kematian. Dari sini terlihat bahwa gaib bertingkat-tingkat, ada yang nisbi, dalam arti ia gaib bagi seseorang tapi bagi lainnya tidak, atau pada waktu tertentu gaib dan pada waktu lain tidak. Misalnya, dulu orang mengetahuinya tetapi kini, setelah berlalu sekian lama waktu, tidak diketahui lagi, atau sebaliknya. Ada juga gaib yang sifatnya mutlak. 
Dalam makalah ini, insya Allah akan dijelaskan seputar mukjizat al-qur’an dari aspek pembertiaan gaib. Dan penyusun sengaja mengambilkan materi ini dengan meringkas tulisan Quraish Shihab dari bukunya yang berjudul Mukjizat Al-Qur’an karena didalamnya dijelaskan dengan cukup lengkap.  Semoga dapat memberikan manfaat dan pencerahan.
B.     Beberapa Kabar Gaib di dalam Al-Qur’an
Al-qur’an mengungkap sekian banyak ragam hal gaib. Al-qur’an mengungkap kejadian masa lalu yang tidak diketahui lagi oleh manusia, karena masanya telah demikian lama, dan mengungkap juga peristiwa masa datang atau masa kini yang belum diketahui manusia.
Peristiwa gaib masa lampau yang diungkapkan oleh al-qur’an, misalnya, adalah peristiwa tenggelamnya Firaun dan diselamatkannya badannya, atau peristiwa ashabu al-kahfi (sekelompok pemuda yang berlindung ke gua dan hidup selama tiga ratus tahun lebih). Sementara peristiwa masa datang yang diungkapkannya dapat dibagi menjadi dua bagian. Pertama, telah terjadi kini setelah sebelumnya al-qur’an menguraikan bakal terjadinya. Misalnya, pemberitaan al-qur’an tentang akan terjadinya kemenangan bangsa romawi atas persia pada masa sekitar sembilan tahun sebelum kejadiannya. Kedua, peristiwa masa datang yang belum lagi terjadi, seperti peristiwa kehadiran seekor binatang yang “bercakap” menjelang hari Kiamat.
Tentu saja peristiwa masa datang yang belum terjadi tidak dapat dijadikan bukti kemukjizatan al-qur’an dari aspek pemberitaan gaibnya. Karena, bagi orang yang tidak percaya boleh jadi ia mengatakan bahwa berita ini hanya bualan semata, dalam arti tidak benar. Tetapi peristiwa masa datang yang telah terbukti kebenarannya, atau peristiwa masa lampau yang tidak dikenal masyarakat pada masa turunnya al-qur’an dan masa yang jauh sesudahnya, kemudian diungkap oleh al-qur’an, dapat menjadi bukti bahwa informasi tersebut datangnya pasti bukan dari manusia, tetapi dari Allah Yang Maha Mengetahui.
C.    Berita tentang Masa Lampau
Al-qur’an mengisahkan sekian banyak peristiwa masa lampau. Harus diakui bahwa sebagian dari kisah-kisahnya tidak atau belum dapat dibuktikan kebenarannya hingga kini, tetapi sebagian lainnya telah terbukti, antara lain melalui penelitian arkeologi. Kendati terdapat sekian banyak kisahnya yang belum terbukti, tidaklah wajar menolak kisah-kisah tersebut hanya dengan alasan bahwa kisah itu belum terbukti kebenarannya, juga belum terbukti kekeliruannya.
Berikut dikemukakan beberapa contoh dari informasi kisah-kiahnya yang telah terbukti.
a.       Kaum ‘Ad dan Tsamud serta kehancuran kota Iram.
Al-qur’an berbicara tentang kaum Tsamud dan Ad yang kepada mereka diutus Nabi Shaleh dan Hud. Namun karena kedurhakaan mereka, Allah menurunkan azab berupa gempa dan angin ribut yang sangat dingin lagi kencang. Hal ini dilukiskan oleh QS al-Haqqah (69):4-7
Kaum Tsamud dan Ad telah mendustakan hari kiamat, Adapun Tsamud maka mereka telah dibinasakan dengan kejadian yang luar biasa (petir dan suaranya yang menghancurkan) sedangkan kaum Ad telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi kencang. Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari secara terus menerus, maka kamu lihat kaun Ad ketika itu, mati bergelimpangan bagaikan tunggul-tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk).
Ditempat lain, al-qur’an menguraikan bahwa kaum ‘Ad memiliki kemampuan luar biasa sehingga mereka telah mambangun kota Iram dengan tiang-tiang yang tinggi dan yang belum pernah dibangun dinegeri lain sehebat dan seindah itu sebelumnya.[1]
            Pada tahun 1834 ditemukan sebuah naskah bertuliskan aksara Arab lama (Hymarite) yang menunjukkan nama Nabi Hud. Dalam naskah itu antaralain tertulis “kami memerintah dengan hukum yang digunakan Nabi Hud”. Selanjutnya pada tahun 1964-1969 dilakukan penggalian arkeologis dan dari hasil analisis pada 1980 ditemukan informasi dari salah satu lempeng tentang adanya kota yang disebut Shamutu, Ad dan Iram. Prof Pettinato[2] mengidentifikasikan nama-nama tersebut dengan nama-nama yang disebut pada surat al-Fajr ayat 6-9.
            Bukti arkeologis lain tentang kota Iram adalah hasil ekspedisi Nicholas Clapp[3] di gurun Arabia Selatan pada tahun 1992. Kota Iram menurut riwayat-riwayat adalah kota yang dibangun oleh Shadda bin Udd, sebuah kota indah yang dulu bernama Ubhur. Nicholas menemukan bukti dari seorang penjelajah tentan jalan kuno ke Iram atau Ubhur. Kemudian atas bantuan dua orang lainnya, Juris Zarin dari Universitas Negara Bagian Missouri Barat, dan penjelajah Inggris Sir Ranulph Fiennes mereka berusaha mencari kota yang hilang itu bersama dengan ahli hukum George Hedges. 
            Mereka menggunakan jasa pesawat ulang alik Chalengger dengan sistem Satellite Imaging Radar untuk mengintip bagian bawah Gurun Arabia, yang diduga sebagai tempat tenggelamnya kota yang terkena longsoran itu. Mereka menemukan citra digital berupa garis putih pucat yang menandai beratus-ratus kilometer rute kafilah yang ditinggalkan, sebagian berada di bawah tumpukan pasir yang telah menimbun selama berabad-abad hingga mencapai ketinggian 183 meter.
            Berdasarkan data ini Nicholas dan para rekannya meneliti tanah tersebut dan melakukan pencarian pada akhir tahun 1991. Pada Februari 1992 mereka menemukan bangunan segi delapan dengan dinding dan menara yang tinggi, mencapai sekitar sembilan meter. Agaknya, itulah yang sebagian dari apa yang diceritakan oleh Al-qur’an bahwa “Penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi” pada Al-Fajr:7. 
b.      Berita tentang Tenggelam dan Selamatnya Badan Fir’aun.
Dalam al-Qur’an ditemukan sekitar tiga puluh kali Allah swt menguraikan kisah Musa dan Fir’aun, suatu kisah yang tidak oleh masyarakat ketika itu, kecuali melalui kitab perjanjian Lama. Tetapi, suatu hal yang menakjubkan adalah bahwa Nabi Muhammad saw, melalui al-qur’an telah mengungkap suatu perincian yang sama sekali tidak diungkap oleh suatu kitab pun sebelumnya, bahkan tidak diketahui kecuali yang hidup pada masa terjadinya peristiwa tersebut, yakni pada abad kedua belas SM atau sekitar 3.200 tahun yang lalu.
Mari kita simak al-Qur’an dalam mengungkap sekelumit kisah tentang Fir’aun
*  
Dan kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut. Merekapun diikuti oleh Fir’aun dan tentaranya, karena mereka hendak menganiaya dan menindas (Bani Israil). Ketika Fir’aun telah hampir tenggelam, berkatalah dia, “saya percaya bahwa tidak ada tuhan melainkan Tuhan yang disembah oleh Bani Israil dan Saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada-Nya)”. (Allah menyambut ucapan Fir’aun ini dengan berfirman), “Apakah sekarang (baru kamu percaya) padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. Hari ini kami selamatkan badanmu, supaya kamu menjadi pelajaran bagi (generasi) yang adatang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan kami. (QS Yunus [10] :90-92)
Yang perlu digarisbawahi dalam konteks pembicaraan kita adalah firmnan-Nya: Hari ini kami selamatkan badanmu agar engkau menjadi pelajaran bagi generasi yang datang sesudahmu”
Memang orang mengetahui bahwa Fir’aun tenggelam di Laut Merah ketika mengejar Nabi Musa dan kaumnya. Tetapi menyangkut keselamatan badannya dan menjadi pelajaran bagi generasi sesudahnya merupakan suatu hal yang tidak diketahui siapapun pada masa Nabi Muhammad, nahkan tidak disinggung oleh Perjanjian Lama dan Baru.
Maspero, seorang pakar sejarah Mesir kuno, menjelaskan dalam petunjuk bagi pengunjung Museum Mesir, setelah mempelajari dokumen-dokumen yang ditemukan di Alexandria Mesir, bahwa penguasa mesir yang tenggelam itu bernama Maneptah (atau Memptah?) yang kemudian oleh Sejarawan Driaton dan Vendel, melalui dokumen-dokumen lain, membuktikan bahwa penguasa Mesir itu memerintah antara 1224 SM hingga 1214 SM, atau 1204 menurut pendapat lain.
Sekali lagi pada masa turunnya al-Qur’an lima belas abad yang lalu, tidak seorang pun yang mengetahui dimana sebenarnya penguasa yang tenggekam itu berada, dan bagaimana pula kesudahan yang dialaminya. Namun pada 1986, Purbakalawan Lorent, menemukan jenazah tokoh tersebut dalam bentuk Mumi di Wadi al-Muluk (Lembah Para Raja) berada di daerah Thaba, Luxor, di seberang sungai Nil Mesir. Kemudian pada 8 Juli 1907, Elliot Smith membuka pembalut-pembalut mumi itu dan ternyata badan Fir’aun tersebut dalam keadaan utuh.
Pada Juni 1975, ahli bedah Perancis, Maurice Bucaille, mendapat izin untuk melakukan penelitian lebih lanjut tentang Mumi tersebut dan menemukan bahwa Fir’aun meninggal di Laut. Ini terbukti dari bekas-bekas garam yang memenuhi sekujur tubuhnya, walalupun sebab kematiannya-menurut para pakar tersebut- diakibatkan oleh shock. Bucaille pada akhirnya berkesimpulan bahwa:
Alangkah agungnya contoh-contoh yang diberikan oleh ayat-ayat al-Qur’an tentang tubuh Fir’aun yang sekarang berada di Ruang Mumi Museum Mesir di kota Kairo. Penyelidikan dan penemuan modern telah menunjukkan kebenaran al-qur’an.
            Betapa ia tidak menunjukkan kebenaran kebenarannya, sedangkan informasi-Nya tentang diselamatkannya jasad Fir’aun untuk menjadi pelajaran bagi generasi sesudahnya terbukti dengan sangat jelas. Sayang sekitar pada tahun 1985, pemerintah mesir menutup kamar tempat penyimpanan mumi itu untuk umum, karena rupanya pengaruh udara dari luar dan polusi yang disebabkan oleh mikro-organisme telah memengaruhi keadaan mumi itu. Namun demikian kebenaran pemberitaan ghaib al-Qur’an telah dapat dibuktikan.
c.       Ashab al-kahfi
Keraguan masyarakat Arab Makkah tentang kenabian Muhammad saw dan kebenaran al-qur’an terus berlanjut. Mereka mengutus tiga orang untuk menemui tokoh agama Yahudi Najran guna meminta tanggapan mereka tentang Muhammad. Para tokoh Yahudi tersebut mengusulkan agar kaum musyrik mekkah bertanya kepada Nabi tentang tiga hal. Jika menjawabnya dengan baik, maka dia seorang Nabi. “Lalu tanyakan pula satu hal lain, dan jika dia menduga tahu dia berbohong.” Demikian ucap orang-orang Yahudi. Ketiga hal tersebut adalah, pertama, kisah sekelompok pemuda yang masuk berlindung dan tidur sekian lama. Berapa jumlah mereka san siapa atau apa yang bersama mereka? Kedua, kisah Musa, ketika diperintahkan Tuhan untuk belajar. Ketiga, kisah seorang penjelajah ke Timur dan ke Barat. Adapun keempat, yang ia berbohong kalau mengetahui jawabannya, adalah kapan terjadinya hari kiamat.
Benarkah informasi atau jawaban al-qur’an bahwa terdapat tujuh orang pemuda bersama seekor anjing yang berlindung dari kekejaman penguasa masanya menuju gua? (QS al-Kahfi [18]:22) Benarkah mereka tertidur di gua selama 300 tahun menurut erhitungan syamsiyah atau 309 tahun menurut perhitungan Qamariah? (QS al-Kahfi [18] :21) Benarkah ketika mereka terbangun dan diketahui oleh masyarakat, mereka disambut baik, karena ketika itu penguasa tidak lagi menindas penganut-penganut agama Kristen (QS al-Kahfi [18]: 21)? Benarkah bahwa diatas lokasi gua mereka kemusian dibangun tempat peribadatan? (QS al-Kahfi [18] : 21).
*
Engkau melihat matahari ketika terbit condong dari gua mereka ke sebelah kanan dan apabila terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedangkan mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu. (QS al-Kahfi[18]: 17)
Tidak mudah membuktikan keberadaan gua tersebut sebelum maraknya penelitian arkeologis. Namun, sebagaimana menurut Thaba’thaba’I dalam tafsirnya, sumber-sumber baratpun menyebutkan palling tidak empat kesimpulan tentang ashabul Kahfi, yang walaupun berbeda dalam perinciannya sama dalam pokok kisahnya.
Disisi lain, telah ditemukan banyak gua di Epsus, Damaskus dan Iskandinavia yang amsing-masing penemunya mengklaim bahwa gua itulah yang merupakan gua ashab al-Kahfi, tetapi sayang, ciri-ciri gua tidak sepenuhnya sama dengan apa yang dilukiskan oleh al-Qur’an. Nanti pada 1963, Rafiq Wafa ad-Dajani, seorang arkeolog Yordania, menemukan sebuah gua yang terletak sekitar delapan puluh kilometer dari Amman, Ibukota Yordania, dan memiliki ciri-ciri seperti yang dilukiskan al-Qur’an.
Gua tersebut berada diatas dataran tinggi menuju arah tenggara sedangkan kedua sisinya berada disebelah timur dan barat dan terbuka sedemikian rupa sehingga cahaya matahari menembus ke dalam. Di dalam gua terdapat ruangan kecil yang luasnya sekitar tiga kali dua setengah meter. Pada dinding-dindingnya terdapat tulisan Yunani kuno, tetapi tidak terbaca lagi, sebagaimana terdapat pula gambar seekor anjing dan beberapa ornamen.
Diatas gua tersebut terdapat tempat peribadatan ala Bizantium, mata uang, dan peninggalan-peninggalan yang ditemukan di sekitarnya menunjukkan bahwa tempat tersebut dibangun pada masa pemerintahan Kaisar Justianus I (418-427). Ciri-ciri yang demikian itu dapat dikatakan sesuai dengan ciri-ciri yang dikemukakan al-Qur’an seperti terbaca sebelumnya.
Disisi lain, para sejarawan Muslim dan Kristen mengakui bahwa penguasa yang menindas pengikut-pengikut Isa antaralain adalah yang memerintah pada 98-117M dansekitar pada tahun 112M menetapkan bahwa setiap orang yang menolak menyembah dewa-dewa dijatuhi hukuman sebagai pengkhianat. Para sejarawan Kristen dan Muslim pun sepakat bahwa penguasa yang bijaksan adalah Theodosius yang memerintah selama tahun 408-451M.
Disini sekali lagi, bertemulah informasi dari sejarawan dan al-qur’an, yakni apabila diatas dikatakan bahwa para pemuda yang berlindung itu menghindar dari ketetapan penguasa yang dikeluarkan pada 112 M itu, dan bahwa mereka tidur selama 300 tahun, ini berarti mereka terbangun dari tidur pada sekitar tahun 412 M, yakni pada masa pemerintahan penguasa yang membebaskan orang-orang Kristen dari penindasan.  Dari sejarah ini juga diketahui mengapa peristiwa ini tidak terdapat dalam perjanjian baru dan Perjanjian Lama, karena memang terjadinya jauh sebelum masa Isa as.
D.     Penutup
Beberapa kabar ghaib yang diceritakan dalam al-qur’an adalah suatu mukjizat. Keberadaan kabar-kabar itu membuktikan bahwa al-qur’an datang bukan dari diri Muhammad saw, tetapi merupakan wahyu yang diberikan oleh Yang Maha Megetahui Persoalan Ghaib, Allah swt. Tiga contoh diatas merupakan sebagian  bukti yang membenarkan kebenaran al-Qur’an.
Semoga bermanfaat.
E.      Daftar Pustaka

Shihab, Quraish, Mukjizat al-Qur’an, (Mizan: Bandung) 2013


[1] Lihat QS al-Fajr (89) : 6-9.
[2] Giovanni Pettinato(1934-2011), seorang berkebangsaan Italia, profesor pada bidang paleografi atau ahli tulisan kuno Timur Dekat, spesifikasinya adalah bahasa Ebla. Lebih lengkapnya cek: http://en.wikipedia.org/wiki/Giovanni_Pettinato.

Rabu, 27 November 2013

Ihtibak dalam Ulumul Qur'an.



            Yoosshh,,,, siang-siang emang enaknya nyantai sambil menonton stand up comedy show. Apalagi fisik dan fikiran sedang lelah sesudah kegiatan kuliah yang panjang. Acara nonton terhentikan sejenak setelah tiba-tiba handphone-ku bergetar karena pesan masuk. Ternyata isi pesan tersebut adalah pertanyaan yang menanyakan tentang ihtibak. Apaan tuh? Hehe..
            Ihtibak adalah salah satu istilah yang kita temui apabila kita mengkaji al-qur’an dari segi sastra/balaghah-nya. Sewaktu teman saya tadi menanyakan dimana mendapat referensi tentang ihtibak, maka saya katakan padanya, sebenarnya di berbagai kitab yang fokus membahas disiplin ilmu qur’an kita dapat menjumpai keterangan tentang ihtibak. Salah satunya adalah kitab al-itqan fi ulum al-qur’an karangan al-Imam Jalaluddin as-Suyuthi.
Ihtibak merupakan salah satu jenis Hadzfu (membuang) dalam redaksi al-qur’an. Membuang disini maksudnya adalah membuang kata. Menurut as-Suyuthi, badi’ ihtibak adalah yang paling lembut dan paling indah. Dan sangat sedikit pakar ilmu balaghah yang mencurahkan perhatian kepada ihtibak.
Asal penamaan ihtibak adalah dari kata al-habku, yang artinya kuat, kokoh dan kencang. Biasanya dipergunakan berhubungan dengan kegiatan menenun, berarti memperbaik tenunan. Dalam konteks ini, diumpamakan kata-kata yang dibuang adalah lubang. Apabila para pakar balaghah menemukan lubang ini, lalu menempatakan kata yang dibuang dalam lubangnya, maka susunan redaksinya akan menjadi lengkap dan rahasia balaghah-nya dapat tampak, sebagaimana tenunan kain yang menjadi rapi karena lubangnya tertutup.
            Masih menurut as-Suyuthi, pengertian ihtibak adalah, membuang satu kata dari kalimat/pernyataan yang pertama, yang mana kata-kata tersebut mempunyai perbandingan/lawan kata  pada kalimat yang kedua, dan membuang suatu kata dari kalimat/pernyataan yang kedua, yang mana kata-kata tersebut mempunyai perbandingan pada kalimat/pernyataan yang kedua. (Bingung ya? Hehehe)
            Saya memang agak kikuk menerjemahkannya dengan memakai bahasa Indonesia dan redaksi yang definitif. Untuk lebih mudahnya mungkin kita bisa langsung masuk pada contoh ayat berikut ini.
و مثل الذين كفروا كمثل الذي ينعق بما لا يسمع الا دعاء و نداء
Artinya: dan perumpamaan bagi (penyeru) orang yang kafir adalah seperti penggembala yang meneriaki (binatang) yang tidak mendengar selain panggilan dan teriakan. [al-Baqarah(2): 171]
Taqdir-nya: perumpamaan para Nabi dan orang-orang kafir adalah sebagaimana orang yang berteriak dan diteriaki. Yang berteriak adalah para nabi sedangkan yang diteriaki adalah orang-orang kafir. Kata anbiya’ pada kalimat pertama dibuang dengan dalil yang meneriaki. Sedangkan pada pernyataan kedua, dibuang kata yang diteriaki, dengan dalil orang-orang yang kafir.
 Jadi ada kata alladzina amanu yang berpasangan dengan yan’iqu, dan alladzina kafaru yang berpasangan dengan  yan’iqu bihi.
Beralih ke contoh yang lain

وأدخل يدك في جيبك تخرج بيضاء
Pada ayat diatas takdir-nya adalah kamu masukkan tangan kamu yang asalnya tidak putih, dan keluarkanlah tangan kamu, maka kamu akan mengeluarkannya dalam keadaan putih. Jadi pada pernyataan pertama kata-kata tidak putih/ ghairu baydha’a dibuang, dan pada pernyataan kedua, kata-kata keluarkanlah tanganmu dibuang. Maka ada dua kata-kata yang saling berlawanan yang ada dalam dua pernyataan, yakni (1) masukkanlah dan keluarkanlah (Udkhul dan akhrij), (2) bukan putih dan putih (ghairu baydha’ dan baydha).
Jadi pada ihtibak, terdapat dua pernyataan, yang masing-masing mengandung dua hal yang bertentangan. Lalu pada masing-masing penyataan itu dibuang salah satunya karena pada pernyataan yang lain sudah terdpat lawan kata darinya. Misal pada contoh diatas, ghaira baydha pada pernyataan pertama dibuang karena sudah ada kata baydha pada pernyataan kedua. Ini karena pernyataan ini saling berlawanan/berantonim. Sedangkan pada pernyataan kedua, kata akhrij dibuang, karena sudah ada kata udkhul pada penyataan kedua. Kedua kata ini juga berlawanan.
Demikian dari saya, semoga bermanfaat bagi kita semua.

Selasa, 08 Oktober 2013

Tentang Kitab Tafsir al-Jawahir.

Tafsir al-Jawahir

Al-Qur’an pada prinsipnya telah menjelaskan segala hal, baik secara tersurat maupun tersirat. Termasuk juga menyinggung fenomema alam (dhawahir al-‘alam), Dan itu jauh masanya sebelum manusia di era ini mengenal dan mengembangkan ilmu pengetahuan dibidang sains (science).
            Banyak para mufassir yang menggunakan metode analitis dalam menafsiri Al-Qur’an namun hanya segelintir karya tafsir yang berbicara dengan pendekatan ilmu pengetahuan. Salah satu dari segelintir karya itu ialah tafsir Al-Jawahir karya Thanthawi al-Jauhari. Thanthawi Jauhari merupakan salah satu ilmuan modern yang melakukan terobosan penafsiran jenis ‘ilmi. Ia menulis kitab tafsir yang banyak mengupas tentang sains dan ilmu pengetahuan. Terlepas dari kontroversi boleh tidaknya tafsir bil 'ilmi, yang pasti tafsir ini memberi kontribusi penting dalam dunia penafsiran.
Salah satu kitab tafsir yang dikategorikan sebagai tafsir ilmi adalah tafsir al-Jawahir yang ditulis oleh Thanthawi Jauhari. Tantawi Jauhari lahir tahun 1870 dan berasal dari keluarga petani sederhana di wilayah al-Ghar. Ia mengawali pendidikannya di kota kelahirannya tersebut. Kepada anak-anaknya, orang tua Tantawi menginginkan mereka dapat tumbuh menjadi orang terpelajar. Oleh karenanya setelah menyelesaikan pendidikan menengah atasnya, Thanthawi dikirim oleh orang tuanya untuk melanjutkan studi ke universitas al-Azhar di ibukota Kairo.
Ketika menimba ilmu di universitas terkemuka tersebut, dia berkesempatan bertemu dengan tokoh pembaharu, Muhammad Abduh. Tokoh ini kemudian memang mampu memberikan pengaruh besar bagi pemikiran dan keilmuan Tantawi, khususnya pada bidang ilmu tafsir. Setelah itu dia melanjutkan belajarnya ke Darul Ulum dan mampu menyelesaikan pendidikan di sana tahun 1893. Akan tetapi Tantawi merasa kurang puas dengan program belajar yang diberikan, utamanya ilmu tafsir, yang antara lain dikarenakan bimbingan dari Muhammad Abduh sebelumnya hingga membuat dia memiliki cakrawala pemikiran yang luas.
Meski begitu Tantawi tetap bertekad menyelesaikan studinya. Setelah beberapa tahun kemudian, dia pun berhasil tamat pendidikan di Darul Ulum untuk selanjutnya berkiprah sebagai tenaga pengajar. Dia tercatat pernah menjadi guru di madrasah ibtidaiyah dan tsanawiyah dan kemudian sebagai dosen pada almamaternya, yakni Universitas Darul Ulum. Dan lantas tahun 1912 diangkat menjadi dosen di al-Jamiah al-Mishyriyah pada mata kuliah falsafah Islam.
Beliau layaknya seorang cendekiawan, terus mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan. Hal itu dilakukan dengan membaca buku-buku serta dari artikel di majalah dan surat kabar. Selain itu berbagai seminar maupun pertemuan ilmu pengetahuan tidak ketinggalan dihadirinya. Bidang ilmu yang menjadi fokus perhatiannya adalah ilmu tafsir. Namun dia pun mengikuti pula ilmu fisika, ilmu yang menurut pandangannya dapat menangkal kesalahpahaman yang kerap menuding Islam sebagai agama yang menentang ilmu dan teknologi modern.
Bertahun-tahun lamanya segala perhatian dicurahkan untuk meningkatkan kepedulian umat terhadap pentingnya meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui penguasaan ilmu pengetahuan. Gagasan serta pemikirannya lambat laun mulai diperhitungkan dan menjadikannya masuk dalam jajaran pemikir Islam terkemuka. Setidaknya ada tiga hal yang patut dicatat dari Tantawi Jauhari. Pertama, obsesinya untuk memajukan daya pikir umat; kedua, pentingnya ilmu bahasa dalam menguasai idiom-idiom modern, dan ketiga; pengkajiannya terhadap al-Quran sebagai satu-satunya kitab suci yang memotivasi pengembangan ilmu.[1] Beliau wafat pada tahun 1940 dan banyak meninggalkan karya yang berkontribusi bagi kemajuan umat islam.
Thanthawi Jauhari menulis sebuah kitab tafsir yang ia namakan tafsir al-jawahir. Tafsir ini terdiri dari dua puluh lima jilid. Dari kitab karangannya ini beliau mengharapkan, agar Allah berkenan melapangkan hati, agar menjadi petunjuk bagi ummat dan agar mata kaum muslimin menjadi terbuka sehingga dapat menguasai ilmu kawniyah (sains). Beliau juga berharap Allah menguatkan agama islam dan nantinya dari kaum muslimin ada yang mengarang berdasarkan metodenya. Selain itu agar kitabnya dibaca umat muslim diseluruh dunia dan diterima dengan baik. Dan yang paling penting adalah mengundang atau mendorong umat muslim untuk mempelajari ilmu sains.
Dilihat dari bentuknya, kitab tafsir Al-Jawahir ini ditulis dengan menggunakan metode tahlili. Metode tahlili adalah suatu metode yang bermaksud menjelaskan kandungan ayat-ayat al-quran dari seluruh aspeknya. Di dalam tafsirnya. Penafsir mengikuti runtutan ayat sebagaimana telah tersusun di dalam mushaf. Penafsir memulai uraiannya dengan mengemukakan arti kosakata diikuti dengan penjelasan mengenai arti global ayat. Ia juga mengemukakan munasabah ayat-ayat serta menjelaskan hubungan maksud ayat-ayat tersebut satu sama lain. [2]
Dinukil dari Dr. Abdul Majid Abdus Salam, Tantawi Jauhari dalam menulis tafsirnya dimulai dengan menjelaskan arti ayat al-quran, kemudian menjelaskannya sampai terasa cukup penjelasannya. Beliau juga tidak segan mengutip penjelasan dari injil maupun taurat, utamanya injil Barnabas, yang ia anggap paling sesuai dengan al-qur’an. Kita juga bisa melihat bahwa beliau juga terpengaruh oleh pandangan Muhammad Abduh, pengarang tafsir al-Manar, yang membawa semangat pembaharuan dalam islam.  Beliau juga menambah beberapa keterangan dengan menggunakan gambar-gambar berupa tumbuhan atau binatang, gambar alam, percobaan ilmiah, jadwal ilmiah dengan tujuan memberikan penjelasan yang sejelas-jelasnya kepada pembaca.[3]
Corak penafsiran adalah dominasi pemikiran penafsir dalam menuangkan analisanya terhadap ayat-ayat al-quran. Secara spontan kita mengetahui bahwa tafsir al-jawahir ini mempunyai corak tafsir ilmi. Karena di dalam tafsir ini nampak pembahasan-pembahasan dengan menggunakan teori-teori ilmu pengetahuan dan hasil eksperimen ilmiah untuk menjelaskan ayat dalam al-Qur’an. Corak ini muncul karena Ajakan al-quran adalah ajakan illmiah, yang berdiri di atas prinsip pembebasan akal dari takhayul dan kemerdekaan berpikir. Al-quran menyuruh umat manusia memperhatikan alam. Allah swt disamping  menyuruh kita memperhatikan wahyu-Nya, yang tertulis, sekaligus juga menganjurkan kita agar memperhatikan wahyu-Nya yang tampak yaitu alam. Karena inilah kita menemuan banyak ayat al-quran yang diakhiri kalimat semacam li qawmin ya’lamun, li qawmin yatafakkarun dsb.
Meskipun ayat-ayat kawniyah itu secara tegas tidak ditujukan kepada para ilmuwan namun pada hakikatnya mereka itulah yang diharapkan untuk meneliti dan memahami ayat-ayat kauniyah tersebut karena mereka mempunyai sarana dan kompetensi untuk itu dibandingkan orang-orang lain. Sebagaimana tak seorangpun yang mampu merasakan keindahan bahasa kecuali para ahli balaghah, dan tak seorangpun yang dapat membedakan permata yang asli dan berharga selain orang yang ahli.[4]
Berikut ini kami coba untuk menampilkan contoh penafsiran Thanthawi Jauhari, yaitu surat al-Anbiya’ ayat 30,
أولم يرى الذين كفروا أن السماوات و الأرض كانتا رتقا ..... الأية
            “Telah jelas bagi kamu, apa yaang dimaksudkan oleh al-qur’an ratusan tahun silam, bahwa langit dan bumi, yakni matahari dan planet-planet, mulanya rapat kemudian Allah swt memisahkannya. Menurut pendapat kami,  ini adalah suatu mukjizat. Karena ini adalah suatu pengetahuan yang belum diketahui manusia kecuali pada waktu dewasa ini. Bukankah engkau melihat bahwa banyak mufasir berpendapat: “Sesungguhnya orang-orang kafir pada waktu itu tidak mengetahui hal ini. Dan pengetahuan mereka adalah ayat ini sendiri.” Dan pengetahuan yang tersimpan ini telah kami temukan dijelaskan oleh Allah melalui tangan orang-orang Eropa. Sebagaimana al-quran menuturkan disini, seolah-olah  Allah berfirman: Orang-orang kafir akan mengetahui bahwa langit dan bumi itu mulanya rapat, lalu kami pisahkan keduanya. Meskipun al-quran menuturkan dalam bentuk madhi, tapi sebenarnya yang diinginkan adalah makna mustaqbal, hal ini sebagaimana firman Allah  Ata amrullah …. (QS an-Nahl: 1). Ini adalah mukjizat al-quran dan hal yang mengagumkan yang pernah didengar manusia. [5]
           




[1] http://www.referensimakalah.com/2012/05/biografi-singkat-tantawi-jauhari_8433.html
[2] Abdul Hayyi al-Farmawi, Metode Tafsir Mawdhu’iy; Suatu Pengantar, (Raja Grafindo Persada: Jakarta) 1996,  hlm: 12.
[3] Dr. Abdul Majid Abdus Salam, Ittijahat at-Tafsir fi al-Ashri al-Hadits, (Darul Fikr: Beirut) 1973, hlm: 274
[4] Abdul Hayyi al-Farmawi, Hlm 22
[5] Thanthawi Jauhari, Tafsir al-Jawahir, juz 10 hlm 199.